PENGARUH KECERDASAN EMOSI DAN KINERJA

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Banyak orang yang menginginkan untuk bekerja. Namun, tak jarang mereka hanya membutuhkan gaji atau upahnya saja sebagai wujud dari sebuah kompensasi. Kompensasi merupakan salah satu dari pemenuhan kebutuhan bagi manusia, dalam hal ini adalah kebutuhan dasar bagi para pekerja. Menurut Abraham Masslow dengan Teori Tingkat Kebutuhan Manusianya, mengemukakan bahwa ada dua tingkat kebutuhan manusia yaitu (1) lower needs seperti kebutuhan fisiologis dan keamanan dan keselamatan, (2) high order needs mencakup social need, self esteem need, actualization need. Dari kedua tingkatan tersebut, actualization need merupakan tingkatan tertinggi sebagai kebutuhan manusia.

Kaitannya dengan kompensasi, hubungan antara tingkat kebutuhan manusia tersebut masih mencapai level lower need karena dilihat dari peranan pekerja untuk organisasi atau perusahaan, ini masih berupa kepuasan secara fisiologis saja.

Akan tetapi, sebenarnya masih banyak para pekerja atau pegawai yang mempunyai kecerdasan dalam menyikapi kebutuhan-kebutuhannya untuk bertahan hidup. Mereka tidak hanya memandang bahwa kompensasi yang berbentuk financial sebagai pemuas kebutuhan secara fisiologis saja. Kecerdasan dan dedikasi mereka yang tinggi bahkan dibekali dengan pengetahuan dan ketrampilan, terlebih lagi bekal kecakapan, akan memotivasi mereka untuk selalu exist dalam kehidupan mereka di dunia kerja. Douglas McGregor tentang The Human Side of Enterprise mengungkapkan tentang Teori X dan Teori Y. Dalam teori X dikemukakan sebagai berikut:

  1. Manajemen bertanggung jawab untuk mengorganisasi unsure-unsur produksi dari organisasi yang mencakup uang, materials, peralatan dan menusia untuk mencapai tujuan-tujuan.
  2. Di dalam kaitannya dengan manusia proses ini adalah untuk mengarahkan usaha-usaha mereka, memotivasi mereka, mengawasi kegiatan-kegiatannya, memodifikasi perilaku mereka agar cocok dengan kebutuhan organisasi.
  3. Tanpa intervensi aktif dari manajemen orang akan pasif bahkan menolak kebutuhan organisasi. Karena itu mereka harus dibujuk, diberi hadiah, dihukum dan diawasi, kegiatan-kegiatan mereka harus diarahkan dan inni adalah tugas manajemen.

Apabila dilihat dari Teori X yang dikemukakan oleh DouglasMcGregor, nampak terlihat bahwa pekerja atau karyawan merupakan para personal yang kurang mempunyai motivasi dalam mengekspresikan kegiatannya dalam bekerja. Asumsi ini juga menunjukkan bahwa pekerja hanya membutuhkan sisi materinya saja, yaitu berupa kompensasi, mereka juga pemalas, kurang menyukai tanggung jawab.

Sedangkan teori Y mengasumsikan sebagai berikut:

  1. Manajemen bertanggung jawab untuk mengorganisasikan elemen-elemen produksi, uang, barang, peralatan, manusia untuk mencapai tujuan-tujuan
  2. Orang secara alami tidak pasif atau menolak pada kebutuhan organisasi. Mereka menjadi demikian sebagai hasil dari pengalaman mereka di dalam organisasi.
  3. Motivasi, potensi untuk pengembangan, kapasitas untuk bertanggung jawab, kesiapan untuk mengarahkan perilaku ke arah tujuan organisasi semuanya terdapat di dalam diri manusia.
  4. Tugas pokok dari manajemen adalah untuk mengukur kondisi organisasi dan metode operasi agar orang dapat mencapai tujuannya dengan sebaik-baiknya dengan mengarahkan usaha-usaha mereka sendiri kea rah pencapaian tujuan.

Asumsi-asumsi di atas mengindikasikan adanya kekuatan positif dari setiap individu sebagai pekerja yang ingin meningkatkan potensi dirinya.

Peningkatan potensi tersebut tentunya membutuhkan suatu syarat-syarat yang merupakan indikator dan nilai prasyarat yang menjadikan individu tersebut mempunyai nilai lebih jika dibandingkan dengan rekan-rekan sejawatnya. Pimpinan pun tentunya akan mempertimbangkan hal-hal yang menjadi suatu patokan dalam mengangkat seseorang untuk mendapatkan tanggung jawab yang lebih besar dan tak jarang beresiko tinggi. Untuk mencapai peningkatan potensi tersebut, dibutuhkan profesionalisme dan motivasi untuk berprestasi. Keduanya tidak akan tercapai tanpa didukung oleh sebuah kesatuan dari individu tersebut yang disebut dengan kecerdasan. Ada beberapa macam kecerdasan. Kecerdasan-kecerdasan tersebut diperlukan sebagai nilai tambah dari personal karena dengan kecerdasan-kecerdasan yang terpatri dalam individu tersebut akan menunjukkan adanya suatu karakteristik yang kuat.

Ilmu psikologi mempunyai banyak cabang antara lain: (1) Psikologi sosial, (2) Psikologi pendidikan, (3) Psikologi industri, (4) Psikologi klinis, (5) Psikologi perkembangan. Dalam dunia kerja, ilmu psikologi  sangat diperlukan untuk memudahkan para pekerja untuk mendalami potensi diri yang nantinya dapat mempermudah penemuan jatidiri. Ilmu psikologi mempelajari tentang Perkembangan-perkembangan kognisi membantu mempermudah dalam pemahaman dan pengenalan diri seseorang demi kepentingan karier.

B. Permasalahan

Permasalahan yang ingin penulis kemukakan dalam penulisan makalah ini adalah “Sejauhmana Pengaruh Kecerdasan Emosional, Profesionalisme, dan Motivasi Berprestasi terhadap Kinerja?

C. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui sejauhmana Pengaruh Kecerdasan Emosional, Profesionalisme, dan Motivasi Ber prestasi terhadap Kinerja.

D. Sistematika Penulisan

Makalah ini disusun dengan sistematika sebagai berikut: Bab I Pendahuluan mencakup Latar Belakang, Permasalahan, Tujuan Penulisan, dan Sistematika Penulisan.

Bab II Pembahasan memuat tentang Kecerdasan, Profesionalisme, dan Motivasi Berprestasi.

Bab III Penutup berisi tentang Simpulan dan Saran

BAB II

PEMBAHASAN

A. Kecerdasan

1. Pengertian Kecerdasan

Banyak orang mengasumsikan bahwa kecerdasan adalah hal-hal yang berkaitan dengan intelegensia seseorang yang menyangkut kemampuannya untuk menghitung, menganalisa, dan mensintesa, dan lain sebagainya. Namun, sebenarnya kecerdasan mempunyai makna luas yang yang jika dimiliki oleh tiap individu, akan menjadikan individu tersebut menjadi manusia utuh yang akan dapat menguasai dunia dengan segala kecerdasannya.

Menurut Howard Gardner, seorang psikolog kognitif, menjelaskan bahwa kecerdasan adalah pengetahuan atau kemampuan untuk mengemas satu produk atau menggunakan suatu ketrampilan dalam cara yang dihargai oleh budaya di mana Anda hidup. Maka dengan pendapat Gardner tersebut memperlihatkan bahwa kecerdasan dapat dengan mudah ditempatkan dimanapun untuk mengubah dunia.

2. Teori-teori tentang Kecerdasan

Beberapa teori tentang kecerdasan dikemukakan oleh para pakar psikologi dengan maksud untuk memberikan gambaran jelas tentang kecerdasan yang sejatinya tidak nampak kepermukaan sebelum diadakan sebuah eksplorasi terhadap potensi kecerdasan seseorang yang biasanya sudah dibawa sejak masih dalam kandungan. Hal ini dikarenakan oleh isu-isu yang ada tentang kecerdasan bahwa kecerdasan itu dibawa sejak lahir, kecerdasan karena pembelajaran, kecerdasan terapan atau kemampuan, bakat umum, dan bakat dalam bidang khusus.

a. Teori “faktor g”

Teori ini dikemukakan oleh Charles Spearman kurang lebih seratus tahun lalu. Teori ini menyatakan bahwa kemampuan berpikir sangat umum (‘g’ dari ‘general’). Dalam teori ini disebutkan bahwa        kecerdasan adalah serangkaian kemampuan menyeluruh yang meliputi kemampuan menalar, merencanakan-pemikiran konseptual, penyelesaian masalah, dan pembelajaran yang cepat serta efisien. Kecerdasan merupakan cara berpikir yang abstrak, ide-ide yang kompleks namun komprehensif, pembelajaran cepat, dan pembelajaran berdasarkan pengalaman. Karena keumumannya tersebut, maka banyak yang dengan mudah menilai seseorang karena karakter-karakter yang nampak dipermukaan yang bernilai plus merupakan suatu wujud dari kecerdasan.

b. Teori Standar tentang IQ

IQ dapat diukur dengan tes tertentu yang nantinya akan memberikan informasi yang spesifik. Tes IQ yang sangat populer adalah Tes Standford-Binet dan WISC-R yang umum untuk anak-anak. Tes-tes ini biasanya digunakan untuk mengukur prestasi sekolah, dan tes penerimaan pegawai baru. Tes-tes tersebut biasanya cenderung ke arah kecerdasan matematis, logis, verbal, dan spatial.

c. Teori Kecerdasan Beragam

Teori kecerdasan berganda yang diungkapkan oleh Gardner memberikan gambaran delapan cara berbeda untuk menjadi cerdas, kemudian ditambahkan lagi tiga. Kecerdasan berganda tersebut antara lain:

1)      Matematis logis

2)      Linguistik verbal

3)      Kinestesik tubuh

4)      Interpersonal

5)      Spatial

6)      Ritmis-musikal

7)      Naturalistik

8)      Intra personal

9)      Naturalis

10)  Spiritualis

11)  Eksistensialis

Kedelapan macam kecerdasan ini dapat dimiliki siapa saja. Dari teori Gardner ini, akhirnya terbuka kemungkinan bahwa setiap individu mempunyai bakat untuk menjadi cerdas tetapi sesuai dengan kecerdasan yang dimiliki, dan hal ini harus selalu digali menjadi potensi-potensi yang positif dan mengarah pada aplikasi dalam dunia kerja.

a) Model Kecerdasan Triarki

Teori ini dikemukakan oleh Robert Stenberg disebut teori triarki dengan mencakup tiga aspek fundamental kecerdasan yaitu: analitis, kreatif, dan praktis. Ketiganya bekerja simultan ketika seseorang menggunakannya untuk menyelesaikan masalah.

b) Teori Kecerdasan Emosional

Teori kecerdasan emosional diungkapkan oleh Daniel Goleman dalam buku karyanya yang berjudul Emotional Intelligence. Hipotesa Goleman adalah adanya dua lapis pendekatan terhadap IQ. Dia menyatakan bahwa IQ (matematis-logis dan linguistik-verbal) memberikan kontribusi sekitar 20% dari keberhasilan hidup. Sedangkan 80% selebihnya adalah EQ. Menurut Goleman ketrampilan emosional dan sosial merupakan cara penting untuk menjadi cerdas. Mengapa demikian? Karena kecerdasan ini mencakup kemampuan memahami diri sendiri dan orang lain, memiliki empati terhadap orang lain, dapat memimpin atau meyakinkan orang lain, mengetahui cara memotivasi diri sendiri, dan mengelola dorongan-dorongan hati.

d) Ide tentang Orang-orang Cerdas jalanan

Kecerdasan tipe ini merupakan tipe kecerdasan yang tidak memerlukan suatu pelatihan khusus seperti layaknya IQ tradisional. Kecerdasan anak-anak jalanan terasah karena kedekatan dunia mereka dalam kehidupan mereka sehari-hari yang menyebabkan mampu untuk bertahan hidup, selain itu pula dapat menyelesaikan masalah dalam waktu singkat.

e) Konsep tentang Life Quotion (LQ)

Life Quotient adalah agregat keseimbangan. Memiliki LQ yang tinggi berarti memiliki kemampuan kognitif, bakat-bakat bidang khusus, dan memotivasi dunia nyata untuk berhasil dalam dunia di mana kita hidup. Kecerdasan ini diasumsikan bahwa untuk survive diperlukan sebuah tekad yang kuat yaitu motivasi, daya nalar, dan tak lepas pula berupa bakat atau keahlian khusus untuk menaklukkan dunianya.

3. Macam-macam Kecerdasan

Ada tiga macam kecerdasan yaitu:

a)      Kecerdasan Intelegensia (Intelligence Quotient)

Kecerdasan intelegensia mencakup kemampuan analitis, rasional, logis, kritis, akurat dalam menganalisa seuatu hal, dan argumentatif dalam berbicara.

Orang-orang dengan kecerdasan ini sering kali lebih mengeksplor kemampuan otak kiri dalam menyelesaikan masalah atau dalam menghadapi masalah. Tidak sedikit orang-orang dengan IQ tinggi, juga akan mempunyai motivasi dan dedikasi tinggi untuk mengaktualisasikan dirinya.

b)      Kecerdasan Emosi (Emotional Quotient)

Kecerdasan emosional mengedepankan interaksi dengan orang lain di lingkungan sekitar. Interaksi-interaksi yang sering terjadi antar individu, membutuhkan suatu bentuk pengendalian diri agar dapat mempertahankan keberadaan kita di lingkungan tersebut.

Kecerdasan emosional meliputi kemampuan untuk memahami diri sendiri dan orang lain, memiliki empati terhadap orang lain, memimpin atau meyakinkan, memotivasi diri, dan mampu mengelola dorongan-dorongan hati. Orang yang mempunyai kecerdasan emosional dapat terlihat dalam kepribadiannya yang sabar, ikhlas, tidak menonjolkan diri sendiri, tidak mudah tersinggung, tidak mudah marah.

c)      Kecerdasan Spiritual (Spiritual Quotient)

Kecerdasan spiritual mengedepankan hubungan dengan penciptanya. Manifestasi dari kecerdasan spritual dapat dilihat dari ketaatannya dalam menjalankan perintah Tuhan dengan beribadah, keteraturan dalam menata kehidupan. Biasanya seseorang yang mempunyai kecerdasan spritual yang baik, akan menampakkan suatu cerminan dari kedalamannya untuk memahami diri dan Tuhannya dan terekspos berupa kecerdasan emosional.

4. Kecerdasan Emosional sebagai Nilai Plus

Banyak studi yang menganalisa perkembangan-perkembangan psikologi dari seseorang dengan maksud untuk mencari ketepatan dalam perlakuan orang tersebut baik di dunia kerja, rumah tangga, kesehatan, pendidikan, politik, kepemerintahan, dan lain-lain. Tujuan utamanya adalah agar individu tersebut dapat menjalankan sebuah tanggung jawab yang sesuai dengan karakteristik individu tersebut, sehingga mampu mengatasi masalah dengan tidak menimbulkan konflik yang berarti.

Kecerdasan emosional dapat dilihat dari kepribadiannya. Ada empat macam kepribadian yaitu:

1. Sanguinis

Orang-orang sanguinis mempunyai emosional yang tinggi, demonstratif, antusias dan ekspresif. Dengan karakter yang dipunyai ini, orang sanguinis belum dapat dengan sepenuhnya menjiwai apa yang disebut dengan emosional management.

2. Kholeris

Kecerdasan emosional dalam diri orang kholeris antara lain tidak emosional dalam bertindak. Kekuatan ini sangat diperlukan oleh seorang pemimpin ataupun hanya karyawan biasa untuk mengatasi masalah. Karena orang kholeris begitu tenang, dia selalu beorientasi target, melihat seluruh gambaran, terorganisasi dengan baik, mencari pemecahan praktis, bergerak cepat untuk bertindak.

3. Melankolis

Sifat-sifat orang melankolis dapat dilihat karakternya yaitu berorientasi jadwal, perfeksionis, standar kerja tinggi, gigih dan cermat, melihat masalah, suka diagram, grafik, bagan, daftar.

Dalam pekerjaan, orang melankolis cenderung dianggap lamban, tetapi apabila pendelegasian dan pembagian tugas dan wewenag tersebut dilakukan dengan berorientasi pada kekuatan karakter kepribadian, bisa jadi analisa orang melankolis akan lebih akurat dan tepat.

4. Plegmatis

Orang phlegmatis cakap dan mantap, punya kemampuan administratif, menjadi penengah masalah, dan menemukan cara yang mudah. Seorang yang berkepribadian phlegmatis cocok dengan pekerjaan sebagai konsultan.

Menilik pada keempat macam kecerdasan tersebut, seorang karyawan mempunyai kesempatan untuk meningkatkan kerier di bidang pekerjaan yang telah dia tekuni dengan mengolah kemampuannya, ketrampilan, dan bakat yang telah melekat dalam dirinya untuk mencapai prestasi tertentu, bahkan sampai pada tingkatan tertinggi dalam organisasi tersebut.

Keempat kecerdasan tersebut mempunyai kekuatan sendiri-sendiri dalam pengolahan emosinya. Kekuatan pengolahan emosi tersebut yang nantinya akan membawa pada kemaslahatan sebuah organisasi/perusahaan.

a. Profesionalisme

Profesionalisme dapat diartikan sebagai kepandaian menempatkan diri sesuai dengan kemampuan dan kecakapannya. Bekerja secara profesional dapat pula dimaknai sebagai bekerja yang sesuai dengan bidang ilmu yang ditekuni pada waktu menuntut ilmu di perguruan tinggi, atau secara eksplisit adalah bekerja sesuai ijasah.

Tingkat profesionalisme karyawan satu dengan lainnya tidak sama bergantung pada komitmen pribadi karyawan tersebut. Komitmen pribadi akan membawa dirnya pada suatu bentuk totalisme dalam bekerja dan mempertanggungjawabkan hasil kinerjanya.

b. Motivasi Berprestasi

Motivasi menurut Vroom dalam Gibson et. Al (1985) adalah proses pengaturan pilihan di antara bentuk-bentuk aktivitas suka rela alternatif. Menurut pandangannya, sebagian besar perilaku dianggap berada di bawah pengendalian orang dan karenanya dimotivasi.

Vroom juga mengungkapkan teori Harapan, yaitu jika seseorang mempunyai harapan, maka sesorang tersebut yakin akan ada kesempatan di mana usaha tertentu akan mengarah pada suatu tingkat prestasi tertentu.

Ada tiga prinsip dalam teori harapan antara lain:

a) P  =  f ( M X A), P : Prestasi, f : fungsi, M : Motivasi, A : kemampuan

Prinsip ini mengemukakan tentang perkalian fungsi antara Motivasi dan Ability (kemampuan) dalam meraih prestasi. Jadi seseorang yang dikatakan mempunyai prestasi, berarti dia mempunyai movasi dan kemampuan. Dengan kata lain,

b) M = f (V1 X E), M : Motivasi, f : fungsi, V1 : Valensi tingkat I, E : Expectancy.

Prinsip ini menekankan pada motivasi yang merupakan wujud dari tujuan meraih valensi tingkat I dengan sebuah harapan. Jika harapan rendah, maka motivasi kecil. Ini berarti bahwa keduanya berbanding lurus.

c) V1 = ( V2 X I ), V1 : valensi tingkat I, V2 : Valensi tiangkat II, I : instrumentalitas. Valensi tingkat I melekat pada semua perolehan tingkat kedua dan instrumentalitas, kadar keyakinan, yang dimiliki oleh pencapaian hasil tingkat pertama untuk pencapaian tingkat kedua.

Dari teori motivasi dan harapan cukup menjelaskan adanya keterkaitan antara kekuatan dari motivasi, harapan, dan preatsi. Ketiganya berjalan secara berkesinambungan untuk memenuhi kebutuhan paling tinggi dari hukum Maslow yaitu Aktualisasi atau perwujudan diri, dan juga sperti yang dikemukakan oleh McClelland dengan Teori Kebutuhan Berprestasi.

Motivasi berprestasi berarti dorongan pada diri seseorang untuk meraih yang terbaik di bidang tertentu. Dalam hal ini, motivasi berprestasi adalah pada bidang pekerjaan. Maka akan timbul sebuah manifestasi dari adanya motivasi berprestasi tersebut, antara lain:

  1. Usaha untuk mendapatkan penilaian yang baik
  2. Dapat mengatasi rintangan dalam pekerjaan
  3. Mempertahankan kualitas prestasi bekerja yang baik.
  4. Bersaing dengan rekan-rekan untuk menjadi yang terbaik.

Usaha sadar yang secara positif dilakukan seseorang dalam meraih prestasi, membawa dampak yang positif pula dalam segala aspek kehidupan berorganisasinya dan di dalam keorganisasian tersebut.

BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

Pengaruh dari kecerdasan emosi dalam bidang pekerjaan nampak jelas dalam segala aspek. Seorang pegawai atau karyawan bahkan seorang pimpinan sekalipun haruslah mempunyai kecerdasan emosi yang nantinya dapat membawa dampak yang cukup signifikan karena dengan kecerdasan emosional akan menambah kualitas dalam pekerjaan.

Tes-tes tentang IQ sudah dilakukan dan selayaknya tes-tes tentang EQ juga dilakukan untuk mendukung ketepatan dalam penempatan karyawan tersebut dalam divisi yang sesuai dengan talent-nya.

B. Saran

1. Bagi Pembaca

Pembaca yang merupakan khalayak ramai dengan berbagai displin ilmu yang sudah ditekuni, tentunya membutuhkan informasi yang penting dalam mengukur kepribadian melalui kecerdasan emosi. 2. Bagi Organisasi

Organisasi juga perlu mempertimbangkan aspek kecerdasan emosi disamping kecerdasan intelektual dalm rangka peningkatan mutu kinerja bagi karyawannya.

BIBLIOGRAFI

Gibson, James L., John M. Ivancevich, James H. Donelly, Jr. 1985. Perilaku Organisasi. Jakarta: Erlangga

Littauer, Florence. 1992. Personality Plus. Jakarta: Binarupa Aksara

Nurmayanti, Lusi, S.Psi., M.Si. 2008. Psikologi Anak. Jakarta: PT. Macanan Jaya Cemerlang